
Seorang karyawan membuat pelet dry ice di Capitol Carbonic, sebuah pabrik dry ice, di Baltimore, Maryland, pada 20 November 2020. – Di tengah tahun yang penuh gejolak yang melihat lonjakan permintaan dry ice dan kekurangan karbon dioksida yang dibutuhkan untuk membuatnya, Capitol Carbonic menerima telepon dari calon pelanggan: Pfizer. Raksasa farmasi global tersebut sedang mencari pelet seperempat inci yang dihasilkan Capitol Carbonic, sebuah perusahaan keluarga berusia enam dekade, dari mesin yang menyerupai pembuat spageti raksasa di gudang Baltimore — tepat seperti yang dibutuhkan Pfizer untuk menjaga vaksin Covid-19 pada suhu yang sangat dingin dan tepat. (Foto oleh SAUL LOEB / AFP)
China memimpin dalam pasar dry ice di Asia Pasifik, sebagian besar berkat industri manufaktur yang besar dan terus berkembang. Kebutuhan akan dry ice di China didorong oleh berbagai sektor termasuk farmasi, makanan dan minuman, serta logistik dan transportasi. Pasar dry ice di China tumbuh pesat seiring dengan meningkatnya permintaan untuk penyimpanan dan transportasi suhu rendah, terutama di sektor makanan beku dan pengiriman obat-obatan yang sensitif terhadap suhu. Selain itu, pengembangan teknologi baru dalam produksi dry ice dan ekspansi kapasitas produksi juga memainkan peran penting dalam pertumbuhan pasar dry ice di China (The Insight Partners) (Industry Growth Insights).
Industri dry ice di Indonesia juga mengalami pertumbuhan, namun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan China. Pasar dry ice di Indonesia didorong oleh peningkatan konsumsi makanan beku dan perluasan industri logistik yang memerlukan solusi pendinginan. Selain itu, sektor perikanan yang berkembang pesat, terutama untuk ekspor, juga meningkatkan permintaan dry ice. Namun, tantangan dalam hal infrastruktur dan teknologi masih menjadi penghambat utama. Banyak perusahaan lokal masih bergantung pada teknologi dan mesin impor untuk produksi dry ice (The Insight Partners) (MarketResearch).
Perbandingan nya
- Skala Pasar dan Pertumbuhan: China memiliki skala pasar yang lebih besar dan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Industri dry ice di China telah mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi dengan investasi besar dalam teknologi dan infrastruktur.
- Sektor Penggerak: Di China, sektor farmasi dan makanan beku menjadi penggerak utama, sementara di Indonesia sektor perikanan dan logistik mendominasi permintaan dry ice.
- Infrastruktur dan Teknologi: China lebih maju dalam hal infrastruktur dan teknologi produksi dry ice. Indonesia, di sisi lain, masih menghadapi tantangan dalam hal ini, meskipun ada peningkatan investasi dalam beberapa tahun terakhir.
- Permintaan Pasar: Permintaan di China lebih didorong oleh kebutuhan domestik yang besar serta ekspor, sementara di Indonesia lebih banyak untuk kebutuhan ekspor dan peningkatan konsumsi domestik makanan beku.
Secara keseluruhan, meskipun kedua negara mengalami pertumbuhan dalam industri dry ice, China menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dan lebih maju dibandingkan Indonesia, berkat skala ekonominya, teknologi yang lebih canggih, dan pasar domestik yang besar (The Insight Partners) (Industry Growth Insights).

Leave a comment